Suara Politik

  1. Sesungguhnya tulisan pendek dan renungan singkat sama sekali tidak cukup dan tidak pantas jika dibandingkan dengan apa yang hendak direnungkan, yaitu tindakan bakar diri Sondang Hutagalung. Tindakan Sondang menyelesaikan 22 tahun hidupnya dan memotong masa depannya yang masih tergelar panjang menuntut renungan yang jauh lebih panjang dan lebih dalam daripada ini. Tetapi tulisan ini memiliki tugas yang jauh lebih sederhana dan menghadapi tuntutan kesegeraan, yakni demi keragaman sudut pandang dan kedalaman percakapan di internet. Keduanyalah alasan tulisan ini.
    Tulisan ini akan menelaah dua hal yang cukup sulit: 1. apa maksud Sondang dan 2. apa makna tindakan Sondang.
    Karena tidak ada tulisan yang ditinggalkan dan tidak ada pesan yang dititipkan kepada siapa pun perihal maksudnya membakar diri, maka cara terbaik memahami maksud Sondang adalah menafsirkan tindakan itu sendiri. Pada dasarnya kata-kata tidak lebih jelas ketimbang tindakan, meskipun kodifikasi arti kata-kata dalam kamus lebih tertib. Dari segi ini, tindakan memang tidak terkamuskan dan tidak tertib. Tapi tindakan selalu memiliki awal dan akhir, dilakukan di tempat tertentu, pada waktu tertentu. Berdasarkan pendekatan ini, ada tiga hal yang bisa membantu kita menafsirkan tindakan Sondan, yaitu: tempat, waktu, dan cara. Kita akan pahami satu demi satu.
    Tempat
    Tempat memberi makna pada tindakan. Menggaruk hidung di ruang lelang dan di kamar tidur sungguh berbeda. Sondang memilih halaman istana presiden, bukan gedung MA, bukan DPR, KPK, dan bukan gedung BEJ. Berdasarkan ini, kita punya alasan yang cukup baik untuk menafsirkan bahwa yang ia maksud dengan tindakannya bukan soal demokrasi secara umum atau soal toleransi beragama atau apa, tetapi ia sedang menunjuk hidung kepala negara dan kepala pemerintahan. Unsur yang sama pada kedua jabatan itu adalah kepala. Ia menunjuk hidung pemimpin.
    Waktu
    Sondang bertindak di hari kerja (Rabu), bukan hari libur, dan pada jam-jam orang pulang bekerja. Sekalipun hari sudah mulai gelap yang mengakibatkan mata tidak mudah melihat obyek, tetapi kegelapan justru menonjolkan nyala api. Cukup alasan untuk menafsirkan bahwa Sondang ingin dilihat orang banyak dengan cara sebaik-baiknya. Tentang ini orang bisa berpendapat bahwa siang hari lebih baik karena terlihat jelas. Bisa jadi. Tetapi kegelapan juga justru menonjolkan nyala api.
    Cara
    Membakar diri adalah tindakan disengaja dan bisa mematikan, tetapi tidak sama dengan bunuh diri. Bunuh diri banyak dilakukan diam-diam, di tempat tersembunyi, tujuan utamanya adalah mati, bukan untuk dilihat. Sondang membakar diri untuk dilihat pertama-tama. Ini adalah pertunjukan yang pamungkas, ketika tidak ada lagi pertunjukan yang bisa ia berikan, apalagi penjelasan. Mati adalah akibat, bukan tujuan yang diburu. Pertunjukan ini mesti ditonton orang, atau ia sia-sia dan tidak berhasil menciptakan makna apa pun. Dengan ditonton, orang banyak akan disentak untuk mengais-ngais dan mengenakan kerangka cerita dan acuan untuk memahaminya. Dengan demikian, Sondang ditautkan dengan para biksu Tibet, juga dengan Bouazizi. Ia dipahami sebagai martir. Tentu ada yang tidak paham, atau tidak mampu paham, atau tidak mau. Memang makna adalah undangan, tidak semua orang turut serta.
    Sekarang kita memasuki bagian kedua, yakni makna tindakan Sondang bagi kita. Berdasarkan tafsiran di muka perihal maksud Sondang, saya usulkan untuk memahami pesan Sondang sebagai suara politik. Mengapa? Karena ia menunjuk hidung kepala negara-pemerintahan dan sekaligus untuk didengar orang banyak. Ia bersuara kepada keduanya, atau mewakili orang banyak kepada presiden, tetapi jelas bukan mewakili suara presiden kepada orang banyak. Suaranya adalah tindakan turut serta memengaruhi bagaimana kehidupan bersama dikelola. Inilah maksud dasar suara politik.
    Tentu tidak sembarang suara dan cara bertutur membuat sesuatu menjadi suara politik. Seorang cerdik mengatakan bahwa suara bisa disebut sejati jika memenuhi unsur (1) niat; (2) perwujudan dalam tubuh; (3) pengorbanan
    tindakan-tindakan lain; (4) kehadiran orang lain; dan (5) dibuktikan dengan
    ikrar. Kita akan bahas satu demi satu.
    Niat
    Sondang sengaja membakar diri. Dan dia tidak gila, kesurupan, mabuk, atau dicuci otak. Dia masih berhubungan dengan teman-teman, keluarga, bahkan pacar. Jika dia gila, atau dicuci otak, orang lain akan bersaksi. Tapi tidak. Ini memang keinginannya, yang direncanakan dalam keadaan sadar, dan dilakukan dalam keadaan sadar.
    Perwujudan dalam tubuh
    Bukan hanya niat, Sondang melakukannya. Ia bertindak dengan tubuhnya dan berakibat hancurnya tubuh. Ini aksi yang paripurna. Tidak ada yang melebihi ini. Dan dalam jenjang keaslian, tindakan mempertaruhkan tubuh untuk menyuarakan perubahan politik menempati jenjang tertinggi. Orang akan mau dibayar untuk berteriak-teriak atau bahkan bentrok, tetapi untuk membakar diri sekurang-kurangnya orang itu sendiri sendirilah yang berniat. Dibandingkan pengorbanan tubuh, teriakan unjuk rasa cuma recehan.
    Pengorbanan tindakan lain
    Tidak hanya Sondang mengorbankan kegiatan lain untuk menuju Istana, tetapi ia tidak akan bisa berkorban lagi. Kuliahnya yang sudah mencapai skripsi, organisasi tempatnya berkiprah, hubungannya dengan teman-teman, cintanya pada keluarga, dan pacarnya ia tanggalkan.
    Kehadiran orang lain
    Kehadiran orang lain bukan saja menjadi saksi bahwa yang ia lakukan bersangkutan dengan orang banyak, tetapi juga menjamin bahwa suaranya akan bergema dan diteruskan oleh orang banyak ke orang banyak.
    Dibuktikan dengan ikrar
    Ikrar mengikat seseorang yang mengucapkan dengan masa lalu dan orang lain: bahwa di masa depan ia akan terus melakukan apa yang ia lakukan sekarang dan orang lain menjadi saksi. Bagi Sondang, masa depan adalah masa kini yang ia hentikan. Ikrarnya adalah tubuhnya yang purna tugas.
    Meringkas kedua bagian paparan, yakni apa maksud Sondang dan apa makna tindakan Sondan, kita telah melihat bahwa tindakan Sondang membakar diri adalah suara politik untuk didengar Presiden. Suara ini bukan riuh rendah rapat DPR, bukan kicauan di internet menyumpahi bobroknya kehidupan bersama, bukan unjuk rasa bayaran, atau hasil cuci otak demagog. Sondang mengambil keputusan atas dirinya sendiri, tubuh-jiwanya sendiri, dan mengikat janji dengan tindakannya sampai kekal. Tidak ada yang lebih jelas ketimbang ini. Setiap kali belajar bersuara, akan saya ingat-ingat suara Sondang. 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: