Archive | Januari 2012

Bisakah Membicarakan Perkara Umum di Twitter?

  1. Hari Minggu ini agak hangat karena para pencuit ramai bersoal rokok. Cuitan dimulai oleh @BilanganFu yang berkata:
  2. Kupikir rokok itu dosanya deket sama judi.
  3. Selanjutnya dia membangun 2 alasan utama kenapa rokok itu tidak baik, yaitu alasan ekonomi dan alasan kesehatan. Alasan ekonomi: rokok tidak menyejahterakan buruh rokok dan rokok mengacaukan jatah belanja keluarga perokok, terutama keluarga miskin. Alasan kesehatan: merokok tidak sehat. Kedua alasan ini segera dibantah oleh @waskitogiri. Begini kata dia:
  4. Ada kepentingan industri nasional. Kretek adlh satu2nya industri nasional yg tersisa, terintegrasi hulu-hilir.@BilanganFu @bayukd @Puthutea
  5. Menurut @waskitogiri rokok itu baik karena penting bagi industri nasional (meskipun tidak jelas, kenapa kalau nasional dengan sendirinya adalah baik dan baik bagi siapa). Alasan kesehatan juga dibantah dengan mengatakan bahwa “rokok tidak sehat” itu adalah cara pandang kesehatan yang positivistik.

         Yang ingin saya sorot dari perbincangan ini adalah bahwa baku-kata dan baku-gagasan yang terjadi di depan memiliki ciri-ciri yang sama dengan perdebatan yang sering saya jumpai di twitter. Yakni, lontaran pendapat tidak didukung bukti yang bisa diperiksa pihak lain. Sebagai misal, dalam baku-gagasan di atas, @waskitogiri tidak menunjukkan bukti bagaimana rokok menguntungkan rakyat (siapa sih “nasional” yang diacu, juragan atau buruh?) dan memilih menyitir Ivan Illich dan Michell Foucault (keduanya filsuf) untuk menyatakan “rokok tidak sehat” adalah cara berpikir yang positivistik. @BilanganFU menunjukkan bukti tetangganya yang pedagang sayur dan data di Kompas (sayang alamatnya tidak dicantumkan).

                                                                                 ***

         Saya tidak ingin masuk ke soal setuju tidak setuju dengan rokok, tetapi mencuplik contoh di muka untuk menggambarkan gejala yang agak umum dalam perbincangan tentang kehidupan bersama. Apakah? Twitter sering dipakai untuk melontarkan pendapat tanpa didukung bukti. Sebagai sarana perbincangan yang dipakai banyak orang dan, pada dasarnya, bisa didengar banyak orang, twitter sering mirip tong kosong berbunyi nyaring. Banyak lalu lintas pendapat, tuna bukti. Memang tidak semua hal musti didukung bukti, misal bahwa matahari terbit dari Timur. Tapi mengatakan bahwa industri rokok itu baik, butuh bukti yang luar biasa banyak dan mencakup sangat banyak bidang kehidupan bersama. Karena pendapat sebaliknya, bahwa merokok itu buruk, sudah didukung sangat banyak bukti. Jika diskusi berisi pendapat tanpa bukti, tidak akan terjadi pertimbangan karena tidak tidak ada yang dipertimbangkan. Lebih jauh soal ini mungkin dalam tulisan lain.
         Tentang mengapa ini terjadi, mungkin karena memang sedemikianlah mutu perbincangan kita, atau kemalasan orang mengikuti tatakrama, atau alasan lain. Saya tidak akan membahas itu, saya akan membahas bagaimana perbincangan perkara publik ditinjau dari medium itu sendiri, yaitu twitter, dan apa yang terjadi di sana. Secara konseptual kita bisa mengurai berbagai sarana perbincangan di internet berdasarkan langgam wacana atau cara orang berkata-kata dan berdasarkan ciri-ciri alat yang digunakan.

    A. Langgam Wacana: Tulisan atau Omongan. Sejak internet makin terlibat dalam kehidupan sehari-hari, makin banyak dipakai, dan makin banyak hal dilakukan di dalamnya, telah banyak orang berpikir dan merenungkan apakah yang sebenarnya berlangsung di sana. Salah satu pendekatan utama untuk mengurai ini adalah dengan mencoba menjawab apakah pendapat di Internet adalah tulisan ataukah omongan. Jika internet seperti omongan warung kopi, orang memang tidak dituntut memberi bukti. Sebaliknya tulisan untuk dibaca banyak orang, tetapi tanpa bukti justru menunjukkan mutu si penulis. Silakan simak juga buku Naomi S. Baron yang jernih membahas masalah ini.
         Mari kita bahas Twitter. Di dalamnya orang berbalas kata dengan cepat, hampir seperti orang mengobrol. Kata-kata yang digunakan juga pendek, banyak berlanggam cakapan sehari-hari, mengandung istilah prokem, dan seterusnya. Tapi, ternyata banyak orang menggunakan twitter untuk memberi kuliah panjang sampai puluhan, bahkan lebih dari seratus penggal pesan. Dan sangat banyak orang sadar bahwa cuitan tidak seperti kata-kata yang lenyap begitu terucap, menyisakan ingatan pengujar dan pendengar. Cuitan di twitter tinggal tetap sehingga bisa dirujuk sebagai bukti. Ini membuat orang juga berhati-hati menulis di twitter, bukan mengoceh belaka. Butir ini juga banyak bersangkutan dengan soal kedua berikut.

    B. Ciri-Ciri Alat: Platform Kurasi dan/atau Arsip. Alat seperti twitter ini memiliki sifat-sifat khusus yang membuat pendapat bahwa “toh ini cuma alat, berarti tergantung pemakainya” terdengar sebagai celoteh bocah. Alat tertentu hanya bisa dipakai untuk kepentingan tertentu dan dengan cara tertentu. Di dalamnya banyak kemungkina, tetapi jelas tidak semua kemungkinan. Twitter memungkinkan kita mengikuti informasi dari banyak pihak sekaligus dan serentak. Kita bisa menekuni satu bidang yang khusus, semisal sepatu kulit, dengan mengikuti perkembangan bahan, rancangan, teknologi dan seterusnya dari perancang busana, peneliti, bintang film, perusahaan, dan masih banyak lagi. Dan kita bisa memilih-milih mana yang kita pandang menunjukkan gejala paling penting, lantas kita teruskan kepada orang lain. Kita tidak membuat informasi itu sendiri, tetapi memilih berdasarkan kedalaman wawasan dan kekayaan selera kita. Dengan kata lain, kita menjadi kurator, suatu pekerjaan yang penting di dunia yang berlimpah informasi. Bahkan banyak profesi penghasil informasi, cenderung semakin menjadi kurator, semisal wartawan, narablog, konsultan ini itu, dan seterusnya.
         Selain untuk menyerap informasi dari banyak sumber, memilih, dan kemudian menyebarkannya kembali, twitter juga banyak dipakai sebagai wadah. Orang bercerita makanan, putus cinta, beli baju, dan kena macet di twitter. Di masa depan catatan-catatan yang dengan urut disimpan oleh twitter akan dirujuk dalam percakapan dengan kawan lain, dibuka-buka ketika sedang senggang, dan dipakai untuk bahan berkata-kata yang lain. Twitter adalah bentuk arsip pribadi yang tidak berupa percakapan batin, karena di dalamnya terjalin perbincangan dengan orang lain.

    C. Konteks yang Bercampur. Kembali ke soal perbincangan publik melalui internet yang menjadi ilustrasi tulisan ini. Bahwa orang sering melempar pendapat tanpa bukti, padahal menyangkut perkara bersama yang penting dan didengar orang banyak, adalah soal ketercampuran langgam wacana tulisan dengan omongan, serta ketercampuran berbagai jenis penggunaan pada satu alat. Keduanya cukup menjelaskan bagaimana kegaduhan di twitter tercipta. Namun ada alasan yang sama mendasarnya, suatu rancangan yang tertanam dalam arsitektur berbagai situs jejaring sosial, yang mengakibatkan ini. Situs jejaring sosial tidak menyediakan sarana untuk menciptakan konteks perbincangan. Padahal konteks sangatlah penting karena ia yang menentukan makna suatu perkataan dan perilaku berbahasa orang di dalamnya. Jenis hubungan sosial bisa menjadi konteks, tetapi konteks itu sendiri bukan jenis hubungan sosial. Konteks rapat memberi makna bahwa kata-kata yang disarikan adalah keputusan, konteks rayuan memberi makna bahwa kata-kata yang dilontarkan manis karena tersaput gula, bukan karena benar-benar manis, dan masih banyak lagi.
         Di sini terasa bagaimana materialitas ruang sangat penting untuk menjangkarkan konteks. Ruang kerja, ruang rapat, ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, kafe, tepi jalan, angkot, bioskop adalah konteks yang sangat jelas mengarahkan cara kita bicara dan apa makna perkataan kita. Di dunia maya ini hilang. Cara bicara dan jenis argumentasi untuk konteks obrolan bercampur dengan perbincangan perkara umum yang menuntut kejernihan nalar dan bukti yang kokoh.

Kertas Bertinta Dijilid, Buku, dan Penikmatan Tulisan

  1. Gambar dipinjam dari Wikipedia. Brockhaus Universal-Lecksickon, kira-kira 1928, Sumber: Jan van der Crabben (Juru Foto).
  2.      Bandung Mawardi di Koran Tempo hari Minggu, 8 Januari 2012, bersenandung lagu lama tentang kenangannya pada buku cetak. Lagu itu indah karena memakai kata-kata bersayap untuk mengiaskan membaca sebagai ibadah dan hubungan badan. Bandung Mawardi juga lihai mengisahkan betapa orang-orang hebat seperti Umberto Eco, Karl Max, Tan Malaka, dan Hatta membaca, hidup, bahkan mati bersama buku-buku mereka. Dan kisah-kisah ini akan segera tinggal sebagai kenangan belaka, terbunuh oleh buku elektronik yang ditolak oleh Umberto Eco karena “bisa membuat mata rabun” dan Bandung Mawardi sebut sebagai bagian dari “zaman kalap teknologi,” yang “bisa jadi mala,” “gawat,” berisi “mitos tentang teknologi-literasi,” dan nanti akhirnya membangkrutkan “tubuh manusia-buku.”

         Masih banyak kata-kata berkias lain dalam tulisan Bandung Mawardi, tetapi kalau kita sibakkan kata-kata itu maka tersua di dalamnya kerangka gagasan yang mengaitkan bentuk wadag buku (kertas bertinta yang dijilid) dengan bentuk pengorganisasian informasi (rangkaian kalimat berurutan, panjang, terbagi dalam bab) dengan pengalaman individu terhadap keduanya. Inilah kerangka gagasan Bandung Mawardi. Ketiganya terjalin begitu erat dalam angan-angan Bandung Mawardi hingga mencapai kemanunggalan yang mistis. Tak teruraikan. Dan seolah-olah kemanunggalan itu baik dengan sendirinya.

    Teknologi Buku

         Sejatinya gagasan buku cetak melawan buku elektronik tidaklah tepat sebagai perkara teknologi. Bandung Mawardi berkisah seolah-olah kemajuan teknologilah yang membangkrutkan buku cetak, dan menempatkan buku cetak jauh di masa lalu tokoh-tokoh besar dengan pengalaman mistis mereka. Dalam hemat saya, buku cetak dan buku elektronik adalah hasil teknologi. Keduanya adalah anak kandung dari ibu yang sama. Ini kekeliruan pertama Bandung Mawardi.

         Pada abad ke-15, buku cetak juga sama baru dan sama teknologisnya dengan buku elektronik. Mengutip cerita Walter Ong dalam buku (cetak 1982, elektronis 2002) berjudul Orality and Literacy, ketika tulisan tercetak pertama kali muncul, dunia dan kesadaran orang masih didasari oleh suara. Sebagai contoh, judul buku ditulis berdasarkan keindahan visualnya saja. Nama pengarang boleh dikorbankan dan dipenggal-penggal meskipun di sampul buku (!) untuk mengejar keindahan visual. Toh, tafsir Ong, teks yang terlihat estetis itu terdengar sama saja dalam benak pembacanya. Mengapa? Karena hanya di kemudian harilah, ketika orang sudah terbiasa dengan tulisan tercetak sehingga kesatuan visual tulisan tercetak menjadi wajar, nama pengarang haruslah utuh. Di masa yang kemudian itulah seolah-olah tak terelakkan lagi bahwa nama pengarang haruslah tercetak utuh. Hal kecil yang kita kira wajar ini pun tidak turun dari langit atau muncul alamiah, tetapi lahir dari pergaulan dengan teknologi.

         Sayang ruang yang tersedia tidak mungkin untuk memberikan contoh yang lebih banyak. Cukuplah saya katakan bahwa segala teknologi pernah baru. Ketika teknologi baru muncul dan mengubah kebiasaan lama, orang akan menyusun kebiasaan baru, atau mengabaikannya, atau menolaknya, atau merindukan kebiasaan lama.

    Bentuk Informasi dan Wujud Fisiknya

         Kekeliruan kedua Bandung Mawardi adalah mengabaikan perbedaan mendasar ketiga hal ini: wujud fisik, bentuk informasi, dan pengalaman mengonsumsi informasi. Dalam kisah-kisah yang dicontohkan Bandung Mawardi, tercipta kemanunggalan mistis antara wujud fisik buku yakni kertas bertinta yang terjilid, bentuk informasi berupa tulisan panjang berbab-bab, dan kenikmatan membacanya. Kalaupun benar ketiganya pernah melebur menjadi satu, bukan berarti ketiganya secara alamiah merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Membaca buku di pembaca buku elektronik hanya mengubah wujud fisik, tetapi tidak mengubah bentuk informasi, dan belum tentu mengubah  pengalaman kita terhadap buku tersebut. Apa buktinya? Para pembaca buku tercetak ternyata membeli dan menikmati membaca buku elektronik di pembaca elektronik. Saya kira buku dalam wujud fisiknya ataupun sebagai bentuk penyampaian informasi masih akan berumur panjang. Yang tidak berumur panjang adalah pernikahan keduanya.

         Buku dalam wujud fisik masih akan dicetak untuk berbagai bentuk informasi: mungkin tulisan panjang, foto, atau komik, atau apa pun. Tetapi berpikir bahwa jilidan kertaslah wadah paling sempurna untuk “buku” sebagai bentuk informasi adalah keliru. Buku fisik memerlukan pohon untuk dijadikan kertas. Penjualan dan penyimpanannya memerlukan ruangan yang besar. Kalau sudah lama, buku cetak sulit didapatkan karena buku lama sudah hancur atau dihancurkan, atau rawan rusak, atau mahal. Ingin membaca naskah asli Isaac Newton dalam bentuk tercetak? Silakan berangkat ke perpustakaan Universitas Cambridge.

         Buku sebagai bentuk pengorganisasian informasi juga masih akan berumur panjang, tetapi belum tentu berwujud fisik seperti sekarang. Buku tetap bisa berupa tulisan panjang dengan pembagian bab-bab di dalamnya, tetapi berubah dengan memuat ilustrasi gambar yang bisa diputar dan diperbesar untuk melihat secara lebih seksama. Atau disertai lagu yang bisa didengar sembari membaca. Lebih jauh lagi, buku bisa menjadi aplikasi di dalam sabak elektronik atau telepon genggam. Bentuk semata-mata tertulis juga saya kira masih akan terus ada karena bentuk ini membantu cara berpikir tertentu seperti yang diingini oleh si pengarang.

    Kerinduan

         Sebenarnya sikap nostalgis yang ditunjukkan Bandung Mawardi ada pada gejala ketiga, yaitu pengalaman mengonsumsi informasi. Informasi tertulis menimbulkan pengalaman kesastraan tertentu pada pembaca. Pengalaman kesastraan inilah yang orang kira melekat pada bentuk informasi ataupun wadahnya. Namun, sejatinya pengalaman kesastraan tidaklah terikat pada bentuk paparan panjang berbab-bab, ataupun pada kertas terjilid yang mewadahinya. Pengalaman kesastraan bisa lahir dari bentuk organisasi informasi yang lain dan bisa diwadahi dengan bentuk lain. Bisa saya amsalkan bahwa merindukan buku cetak tidak ubahnya kerinduan pecinta radio pada pesawat radio lama. Tidak ada yang salah dengan ini. Pecinta pesawat radio silakan saja mengumpulkan berbagai jenis pesawat radio dan mendengar siaran radio sembari mengenang masa-masa lampau. Tetapi mengira bahwa itulah cara terbaik mendengarkan suara siaran, kemudian berseru bahwa mendengar suara siaran melalui ponsel tidak menghasilkan pengalaman dengaran yang indah adalah keliru.

Jurnalisme Data

  1.      Tulisan ini tidak bermaksud menjadi penjelasan yang menyeluruh mengenai jurnalisme data, tetapi sekedar mencatat apa yang sedang saya pelajari dan saya kira penting. Tujuan utamanya pertama-tama adalah mengenali apa yang menjadi ciri-ciri dasar jurnalisme data dan apa akibatnya bagi kerja pemberitaan.

         Istilah jurnalisme data barangkali kurang kita kenal dan agak membingungkan. Istilah ini kurang dikenal karena memang terhitung baru diperkenalkan dalam 5 tahun terakhir ini. Meskipun bukan pewarta, Hans Rosling membuka mata banyak orang perihal bagaimana menyajikan data kuantitatif kepada khalayak luas. Di sisi lain, berkat kemampuan wartawan-wartawan yang menekuni statistik dan dunia internet jurnalisme data mulai memasuki media massa. Kehadiran wartawan yang akrab dengan data dan internet bertemu dengan kecenderungan lain yang mendukungnya, yaitu ketersediaan data itu sendiri. Dalam hal ini patut dicatat prakarsa beberapa lembaga penyelenggaraan kebutuhan umum, seperti kantor polisi, kantor pemadam kebakaran, kantor perjalanan umum, pemerintah kota, juga pemerintah negara bagian yang membuka data-data yang mereka miliki di dalam sistem mereka bagi masyarakat umum. Hasilnya wartawan yang tekun membaca angka-angka laporan kejahatan dan menghubungkannya dengan gejala yang lebih luas, semisal pengurangan anggaran layanan umum, akan mampu melaporkan fakta bahwa ada hubungan antara peningkatan angka laporan kejahatan dengan pengurangan anggaran layanan umum. Fakta-fakta ini bisa disajikan secara terang dan apik dengan bantuan peta wilayah dengan warna-warna yang mewakili derajat kriminalitas dan angka anggaran layanan umum.

         Jadi, apakah cerita tentang angka dan penyajian dengan grafik interaktif adalah ciri dasar jurnalisme data? Tidak. Kalau kita menamai sesuatu hanya berdasarkan bagaimana ia tampak, maka kita akan luput melihat apa yang sebenarnya menggerakkan gejala tersebut. Angka dan grafik interaktif ini sekedar riak dari arus bawah yang lebih kuat meski tidak selalu kelihatan terang-terangan, yaitu bagaimana kehidupan bersama diselenggarakan dengan tumpuan pengolahan angka-angka. Bukankah sejak jaman modern demikian? Ya, tetapi sekarang ada 3 gerak yang bertemu sehingga menghasilkan arus kuat, yaitu makin banyak angka tersedia akibat makin dalamnya langgam kuantifikasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Apa yang dulu tidak tercatat sekarang menjadi tercatat, semisal kecepatan kendaraaan di jalan, tingkat polusi, angka kecelakaan, luas jalan, dan seterusnya. Ini gerak pertama. Gerak kedua, berbagai catatan angka ini makin bisa diakses akibat pengarsipan yang makin baku dan kemudahan penyalinan data yang terdigitalisasi. Memang masih banyak kantor layanan umum yang belum paham bahwa seluruh catatan tentang kehidupan umum adalah milik umum, sehingga masyarakat boleh dan harus dibantu untuk melihatnya. Meski demikian, waktu tidak bisa diputar mundur bahwa data kehidupan umum makin terbuka. Gerak ketiga adalah keterhubungan berbagai data dalam jumlah luar biasa besar ini dan kemudahan pengolahannya akibat piranti komputasi yang luar biasa cepat. Kalau mau, sebetulnya sangat mungkin menghitung indeks kecelakaan setiap titik jalan berdasarkan data kecepatan kendaraan, panjang jalan, kepadatan, serta cuaca dan menampilkan data ini secara langsung. Laporan indeks kecelakaan, saya kira, sama pentingnya dengan laporan cuaca yang mengikuti siaran berita.

         Berdasarkan ketiga gerak tersebut, maka jurnalisme data tidak sama dengan jurnalisme biasa yang ditampilkan di internet secara interaktif. Ia bukan pula gambar-gambar statistik warna-warni dengan istilah-istilah yang kurang umum. Jurnalisme data adalah upaya merengkuh dan melaporkan kenyataan sosial yang baru bahwa penyelenggaraan kehidupan bersama makin bertumpu pada pengelolaan data berjumlah besar dan terus berubah. Tanpa penerimaan ini, maka grafik warna-warni bagi jurnalisme hanyalah lonceng plastik untuk kereta mogok. Tidak bunyi dan tidak berguna.

         Bahwa angka adalah bahan pelaporan, bukan berarti wartawan terbelenggu hanya melaporkan angka. Jurnalisme data berbeda dengan jurnalisme pangkaldata (semisal Wikileaks). Wartawan bisa tetap melaporkan kisah-kisah pribadi, cerita-cerita menggugah, dan laporan-laporan mendalam, tetapi dengan meletakkannya pada konteks yang lebih luas, yakni data-data tersebut. Soal bentuk laporan, bukanlah hal yang paling utama dan tidak ada aturan baku. Seno Gumira pernah membuat laporan berbentuk cerpen. Joe Sacco melaporkan liputannya dengan komik. Bentuk laporan bisa bermacam-macam, tetapi secara prinsip jurnalisme data bertumpu pada pengolahan data angka yang penting bagi hajat hidup umum.

         Saya kira di Indonesia belum banyak yang melakukan ini. Sebagai misal, ketika Gunung Merapi meletus di akhir tahun 2010, banyak orang bergerak membantu dan memanfaatkan jejaring media sosial. Sesungguhnya saat itu arsip twitter mudah dicari dan dikumpulkan. Dengan beberapa upaya, bisa diperoleh gambaran tentang bagaimana sebenarnya twitter digunakan. Tetapi, berbagai media massa di Indonesia lebih tertarik untuk menceritakan ketokohan anak muda pengguna media dan menggunakan cara lama untuk kenyataan baru. Teknik pencarian informasi masih melulu wawancara ke beberapa orang. Padahal banyak cerita menarik dari angka-angka, semisal perbandingan bantuan dari warga-ke-warga, dari warga-lewat-media, dari warga-lewat-pemerintah bisa dilakukan; mana yang lebih cepat, mana yang lebih ringkas, dan mana yang lebih bermanfaat.

         Mengapa jurnalisme perlu melakukan ini? Jika jurnalisme masih setia pada tugas menjadi mata dan telinga masyarakat, maka jurnalisme data adalah keniscayaan. Rata-rata warga masyarakat secara pribadi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan ini. Bisa jadi karena tidak ada waktu, bisa jadi karena kurang keahlian, atau juga karena kurang perhatian. Dengan memasuki jurnalisme data, bisa jadi terbuka kemungkinan-kemungkinan pendapatan yang baru bagi media dan tidak lagi terpaku pada upaya mencetak dan mengedarkan kertas bertinta.

         Beberapa media besar dengan sungguh-sungguh telah menceburkan diri dalam jurnalisme data, membuka bagian khusus untuk mengembangkannya, dan menghasilkan laporan-laporan yang luar biasa, seperti dua contoh di bawah ini.

  2. Jika Anda tertarik mengikuti masa depan jurnalisme dan pergulatannya menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sistem ekonomi media, simak pemikiran-pemikiran para ahli terkemuka mengenai masa depan jurnalisme di Laboratorium Jurnalisme Nieman.

    Jadi, apakah menurut Anda Indonesia memerlukan jurnalisme data?
    Atau silakan main-main dengan data ini dan bayangkan cerita apa yang bisa Anda laporkan kepada khalayak umum.