Jurnalisme Data

  1.      Tulisan ini tidak bermaksud menjadi penjelasan yang menyeluruh mengenai jurnalisme data, tetapi sekedar mencatat apa yang sedang saya pelajari dan saya kira penting. Tujuan utamanya pertama-tama adalah mengenali apa yang menjadi ciri-ciri dasar jurnalisme data dan apa akibatnya bagi kerja pemberitaan.

         Istilah jurnalisme data barangkali kurang kita kenal dan agak membingungkan. Istilah ini kurang dikenal karena memang terhitung baru diperkenalkan dalam 5 tahun terakhir ini. Meskipun bukan pewarta, Hans Rosling membuka mata banyak orang perihal bagaimana menyajikan data kuantitatif kepada khalayak luas. Di sisi lain, berkat kemampuan wartawan-wartawan yang menekuni statistik dan dunia internet jurnalisme data mulai memasuki media massa. Kehadiran wartawan yang akrab dengan data dan internet bertemu dengan kecenderungan lain yang mendukungnya, yaitu ketersediaan data itu sendiri. Dalam hal ini patut dicatat prakarsa beberapa lembaga penyelenggaraan kebutuhan umum, seperti kantor polisi, kantor pemadam kebakaran, kantor perjalanan umum, pemerintah kota, juga pemerintah negara bagian yang membuka data-data yang mereka miliki di dalam sistem mereka bagi masyarakat umum. Hasilnya wartawan yang tekun membaca angka-angka laporan kejahatan dan menghubungkannya dengan gejala yang lebih luas, semisal pengurangan anggaran layanan umum, akan mampu melaporkan fakta bahwa ada hubungan antara peningkatan angka laporan kejahatan dengan pengurangan anggaran layanan umum. Fakta-fakta ini bisa disajikan secara terang dan apik dengan bantuan peta wilayah dengan warna-warna yang mewakili derajat kriminalitas dan angka anggaran layanan umum.

         Jadi, apakah cerita tentang angka dan penyajian dengan grafik interaktif adalah ciri dasar jurnalisme data? Tidak. Kalau kita menamai sesuatu hanya berdasarkan bagaimana ia tampak, maka kita akan luput melihat apa yang sebenarnya menggerakkan gejala tersebut. Angka dan grafik interaktif ini sekedar riak dari arus bawah yang lebih kuat meski tidak selalu kelihatan terang-terangan, yaitu bagaimana kehidupan bersama diselenggarakan dengan tumpuan pengolahan angka-angka. Bukankah sejak jaman modern demikian? Ya, tetapi sekarang ada 3 gerak yang bertemu sehingga menghasilkan arus kuat, yaitu makin banyak angka tersedia akibat makin dalamnya langgam kuantifikasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Apa yang dulu tidak tercatat sekarang menjadi tercatat, semisal kecepatan kendaraaan di jalan, tingkat polusi, angka kecelakaan, luas jalan, dan seterusnya. Ini gerak pertama. Gerak kedua, berbagai catatan angka ini makin bisa diakses akibat pengarsipan yang makin baku dan kemudahan penyalinan data yang terdigitalisasi. Memang masih banyak kantor layanan umum yang belum paham bahwa seluruh catatan tentang kehidupan umum adalah milik umum, sehingga masyarakat boleh dan harus dibantu untuk melihatnya. Meski demikian, waktu tidak bisa diputar mundur bahwa data kehidupan umum makin terbuka. Gerak ketiga adalah keterhubungan berbagai data dalam jumlah luar biasa besar ini dan kemudahan pengolahannya akibat piranti komputasi yang luar biasa cepat. Kalau mau, sebetulnya sangat mungkin menghitung indeks kecelakaan setiap titik jalan berdasarkan data kecepatan kendaraan, panjang jalan, kepadatan, serta cuaca dan menampilkan data ini secara langsung. Laporan indeks kecelakaan, saya kira, sama pentingnya dengan laporan cuaca yang mengikuti siaran berita.

         Berdasarkan ketiga gerak tersebut, maka jurnalisme data tidak sama dengan jurnalisme biasa yang ditampilkan di internet secara interaktif. Ia bukan pula gambar-gambar statistik warna-warni dengan istilah-istilah yang kurang umum. Jurnalisme data adalah upaya merengkuh dan melaporkan kenyataan sosial yang baru bahwa penyelenggaraan kehidupan bersama makin bertumpu pada pengelolaan data berjumlah besar dan terus berubah. Tanpa penerimaan ini, maka grafik warna-warni bagi jurnalisme hanyalah lonceng plastik untuk kereta mogok. Tidak bunyi dan tidak berguna.

         Bahwa angka adalah bahan pelaporan, bukan berarti wartawan terbelenggu hanya melaporkan angka. Jurnalisme data berbeda dengan jurnalisme pangkaldata (semisal Wikileaks). Wartawan bisa tetap melaporkan kisah-kisah pribadi, cerita-cerita menggugah, dan laporan-laporan mendalam, tetapi dengan meletakkannya pada konteks yang lebih luas, yakni data-data tersebut. Soal bentuk laporan, bukanlah hal yang paling utama dan tidak ada aturan baku. Seno Gumira pernah membuat laporan berbentuk cerpen. Joe Sacco melaporkan liputannya dengan komik. Bentuk laporan bisa bermacam-macam, tetapi secara prinsip jurnalisme data bertumpu pada pengolahan data angka yang penting bagi hajat hidup umum.

         Saya kira di Indonesia belum banyak yang melakukan ini. Sebagai misal, ketika Gunung Merapi meletus di akhir tahun 2010, banyak orang bergerak membantu dan memanfaatkan jejaring media sosial. Sesungguhnya saat itu arsip twitter mudah dicari dan dikumpulkan. Dengan beberapa upaya, bisa diperoleh gambaran tentang bagaimana sebenarnya twitter digunakan. Tetapi, berbagai media massa di Indonesia lebih tertarik untuk menceritakan ketokohan anak muda pengguna media dan menggunakan cara lama untuk kenyataan baru. Teknik pencarian informasi masih melulu wawancara ke beberapa orang. Padahal banyak cerita menarik dari angka-angka, semisal perbandingan bantuan dari warga-ke-warga, dari warga-lewat-media, dari warga-lewat-pemerintah bisa dilakukan; mana yang lebih cepat, mana yang lebih ringkas, dan mana yang lebih bermanfaat.

         Mengapa jurnalisme perlu melakukan ini? Jika jurnalisme masih setia pada tugas menjadi mata dan telinga masyarakat, maka jurnalisme data adalah keniscayaan. Rata-rata warga masyarakat secara pribadi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan ini. Bisa jadi karena tidak ada waktu, bisa jadi karena kurang keahlian, atau juga karena kurang perhatian. Dengan memasuki jurnalisme data, bisa jadi terbuka kemungkinan-kemungkinan pendapatan yang baru bagi media dan tidak lagi terpaku pada upaya mencetak dan mengedarkan kertas bertinta.

         Beberapa media besar dengan sungguh-sungguh telah menceburkan diri dalam jurnalisme data, membuka bagian khusus untuk mengembangkannya, dan menghasilkan laporan-laporan yang luar biasa, seperti dua contoh di bawah ini.

  2. Jika Anda tertarik mengikuti masa depan jurnalisme dan pergulatannya menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sistem ekonomi media, simak pemikiran-pemikiran para ahli terkemuka mengenai masa depan jurnalisme di Laboratorium Jurnalisme Nieman.

    Jadi, apakah menurut Anda Indonesia memerlukan jurnalisme data?
    Atau silakan main-main dengan data ini dan bayangkan cerita apa yang bisa Anda laporkan kepada khalayak umum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: