Kertas Bertinta Dijilid, Buku, dan Penikmatan Tulisan

  1. Gambar dipinjam dari Wikipedia. Brockhaus Universal-Lecksickon, kira-kira 1928, Sumber: Jan van der Crabben (Juru Foto).
  2.      Bandung Mawardi di Koran Tempo hari Minggu, 8 Januari 2012, bersenandung lagu lama tentang kenangannya pada buku cetak. Lagu itu indah karena memakai kata-kata bersayap untuk mengiaskan membaca sebagai ibadah dan hubungan badan. Bandung Mawardi juga lihai mengisahkan betapa orang-orang hebat seperti Umberto Eco, Karl Max, Tan Malaka, dan Hatta membaca, hidup, bahkan mati bersama buku-buku mereka. Dan kisah-kisah ini akan segera tinggal sebagai kenangan belaka, terbunuh oleh buku elektronik yang ditolak oleh Umberto Eco karena “bisa membuat mata rabun” dan Bandung Mawardi sebut sebagai bagian dari “zaman kalap teknologi,” yang “bisa jadi mala,” “gawat,” berisi “mitos tentang teknologi-literasi,” dan nanti akhirnya membangkrutkan “tubuh manusia-buku.”

         Masih banyak kata-kata berkias lain dalam tulisan Bandung Mawardi, tetapi kalau kita sibakkan kata-kata itu maka tersua di dalamnya kerangka gagasan yang mengaitkan bentuk wadag buku (kertas bertinta yang dijilid) dengan bentuk pengorganisasian informasi (rangkaian kalimat berurutan, panjang, terbagi dalam bab) dengan pengalaman individu terhadap keduanya. Inilah kerangka gagasan Bandung Mawardi. Ketiganya terjalin begitu erat dalam angan-angan Bandung Mawardi hingga mencapai kemanunggalan yang mistis. Tak teruraikan. Dan seolah-olah kemanunggalan itu baik dengan sendirinya.

    Teknologi Buku

         Sejatinya gagasan buku cetak melawan buku elektronik tidaklah tepat sebagai perkara teknologi. Bandung Mawardi berkisah seolah-olah kemajuan teknologilah yang membangkrutkan buku cetak, dan menempatkan buku cetak jauh di masa lalu tokoh-tokoh besar dengan pengalaman mistis mereka. Dalam hemat saya, buku cetak dan buku elektronik adalah hasil teknologi. Keduanya adalah anak kandung dari ibu yang sama. Ini kekeliruan pertama Bandung Mawardi.

         Pada abad ke-15, buku cetak juga sama baru dan sama teknologisnya dengan buku elektronik. Mengutip cerita Walter Ong dalam buku (cetak 1982, elektronis 2002) berjudul Orality and Literacy, ketika tulisan tercetak pertama kali muncul, dunia dan kesadaran orang masih didasari oleh suara. Sebagai contoh, judul buku ditulis berdasarkan keindahan visualnya saja. Nama pengarang boleh dikorbankan dan dipenggal-penggal meskipun di sampul buku (!) untuk mengejar keindahan visual. Toh, tafsir Ong, teks yang terlihat estetis itu terdengar sama saja dalam benak pembacanya. Mengapa? Karena hanya di kemudian harilah, ketika orang sudah terbiasa dengan tulisan tercetak sehingga kesatuan visual tulisan tercetak menjadi wajar, nama pengarang haruslah utuh. Di masa yang kemudian itulah seolah-olah tak terelakkan lagi bahwa nama pengarang haruslah tercetak utuh. Hal kecil yang kita kira wajar ini pun tidak turun dari langit atau muncul alamiah, tetapi lahir dari pergaulan dengan teknologi.

         Sayang ruang yang tersedia tidak mungkin untuk memberikan contoh yang lebih banyak. Cukuplah saya katakan bahwa segala teknologi pernah baru. Ketika teknologi baru muncul dan mengubah kebiasaan lama, orang akan menyusun kebiasaan baru, atau mengabaikannya, atau menolaknya, atau merindukan kebiasaan lama.

    Bentuk Informasi dan Wujud Fisiknya

         Kekeliruan kedua Bandung Mawardi adalah mengabaikan perbedaan mendasar ketiga hal ini: wujud fisik, bentuk informasi, dan pengalaman mengonsumsi informasi. Dalam kisah-kisah yang dicontohkan Bandung Mawardi, tercipta kemanunggalan mistis antara wujud fisik buku yakni kertas bertinta yang terjilid, bentuk informasi berupa tulisan panjang berbab-bab, dan kenikmatan membacanya. Kalaupun benar ketiganya pernah melebur menjadi satu, bukan berarti ketiganya secara alamiah merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Membaca buku di pembaca buku elektronik hanya mengubah wujud fisik, tetapi tidak mengubah bentuk informasi, dan belum tentu mengubah  pengalaman kita terhadap buku tersebut. Apa buktinya? Para pembaca buku tercetak ternyata membeli dan menikmati membaca buku elektronik di pembaca elektronik. Saya kira buku dalam wujud fisiknya ataupun sebagai bentuk penyampaian informasi masih akan berumur panjang. Yang tidak berumur panjang adalah pernikahan keduanya.

         Buku dalam wujud fisik masih akan dicetak untuk berbagai bentuk informasi: mungkin tulisan panjang, foto, atau komik, atau apa pun. Tetapi berpikir bahwa jilidan kertaslah wadah paling sempurna untuk “buku” sebagai bentuk informasi adalah keliru. Buku fisik memerlukan pohon untuk dijadikan kertas. Penjualan dan penyimpanannya memerlukan ruangan yang besar. Kalau sudah lama, buku cetak sulit didapatkan karena buku lama sudah hancur atau dihancurkan, atau rawan rusak, atau mahal. Ingin membaca naskah asli Isaac Newton dalam bentuk tercetak? Silakan berangkat ke perpustakaan Universitas Cambridge.

         Buku sebagai bentuk pengorganisasian informasi juga masih akan berumur panjang, tetapi belum tentu berwujud fisik seperti sekarang. Buku tetap bisa berupa tulisan panjang dengan pembagian bab-bab di dalamnya, tetapi berubah dengan memuat ilustrasi gambar yang bisa diputar dan diperbesar untuk melihat secara lebih seksama. Atau disertai lagu yang bisa didengar sembari membaca. Lebih jauh lagi, buku bisa menjadi aplikasi di dalam sabak elektronik atau telepon genggam. Bentuk semata-mata tertulis juga saya kira masih akan terus ada karena bentuk ini membantu cara berpikir tertentu seperti yang diingini oleh si pengarang.

    Kerinduan

         Sebenarnya sikap nostalgis yang ditunjukkan Bandung Mawardi ada pada gejala ketiga, yaitu pengalaman mengonsumsi informasi. Informasi tertulis menimbulkan pengalaman kesastraan tertentu pada pembaca. Pengalaman kesastraan inilah yang orang kira melekat pada bentuk informasi ataupun wadahnya. Namun, sejatinya pengalaman kesastraan tidaklah terikat pada bentuk paparan panjang berbab-bab, ataupun pada kertas terjilid yang mewadahinya. Pengalaman kesastraan bisa lahir dari bentuk organisasi informasi yang lain dan bisa diwadahi dengan bentuk lain. Bisa saya amsalkan bahwa merindukan buku cetak tidak ubahnya kerinduan pecinta radio pada pesawat radio lama. Tidak ada yang salah dengan ini. Pecinta pesawat radio silakan saja mengumpulkan berbagai jenis pesawat radio dan mendengar siaran radio sembari mengenang masa-masa lampau. Tetapi mengira bahwa itulah cara terbaik mendengarkan suara siaran, kemudian berseru bahwa mendengar suara siaran melalui ponsel tidak menghasilkan pengalaman dengaran yang indah adalah keliru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: