Bisakah Membicarakan Perkara Umum di Twitter?

  1. Hari Minggu ini agak hangat karena para pencuit ramai bersoal rokok. Cuitan dimulai oleh @BilanganFu yang berkata:
  2. Kupikir rokok itu dosanya deket sama judi.
  3. Selanjutnya dia membangun 2 alasan utama kenapa rokok itu tidak baik, yaitu alasan ekonomi dan alasan kesehatan. Alasan ekonomi: rokok tidak menyejahterakan buruh rokok dan rokok mengacaukan jatah belanja keluarga perokok, terutama keluarga miskin. Alasan kesehatan: merokok tidak sehat. Kedua alasan ini segera dibantah oleh @waskitogiri. Begini kata dia:
  4. Ada kepentingan industri nasional. Kretek adlh satu2nya industri nasional yg tersisa, terintegrasi hulu-hilir.@BilanganFu @bayukd @Puthutea
  5. Menurut @waskitogiri rokok itu baik karena penting bagi industri nasional (meskipun tidak jelas, kenapa kalau nasional dengan sendirinya adalah baik dan baik bagi siapa). Alasan kesehatan juga dibantah dengan mengatakan bahwa “rokok tidak sehat” itu adalah cara pandang kesehatan yang positivistik.

         Yang ingin saya sorot dari perbincangan ini adalah bahwa baku-kata dan baku-gagasan yang terjadi di depan memiliki ciri-ciri yang sama dengan perdebatan yang sering saya jumpai di twitter. Yakni, lontaran pendapat tidak didukung bukti yang bisa diperiksa pihak lain. Sebagai misal, dalam baku-gagasan di atas, @waskitogiri tidak menunjukkan bukti bagaimana rokok menguntungkan rakyat (siapa sih “nasional” yang diacu, juragan atau buruh?) dan memilih menyitir Ivan Illich dan Michell Foucault (keduanya filsuf) untuk menyatakan “rokok tidak sehat” adalah cara berpikir yang positivistik. @BilanganFU menunjukkan bukti tetangganya yang pedagang sayur dan data di Kompas (sayang alamatnya tidak dicantumkan).

                                                                                 ***

         Saya tidak ingin masuk ke soal setuju tidak setuju dengan rokok, tetapi mencuplik contoh di muka untuk menggambarkan gejala yang agak umum dalam perbincangan tentang kehidupan bersama. Apakah? Twitter sering dipakai untuk melontarkan pendapat tanpa didukung bukti. Sebagai sarana perbincangan yang dipakai banyak orang dan, pada dasarnya, bisa didengar banyak orang, twitter sering mirip tong kosong berbunyi nyaring. Banyak lalu lintas pendapat, tuna bukti. Memang tidak semua hal musti didukung bukti, misal bahwa matahari terbit dari Timur. Tapi mengatakan bahwa industri rokok itu baik, butuh bukti yang luar biasa banyak dan mencakup sangat banyak bidang kehidupan bersama. Karena pendapat sebaliknya, bahwa merokok itu buruk, sudah didukung sangat banyak bukti. Jika diskusi berisi pendapat tanpa bukti, tidak akan terjadi pertimbangan karena tidak tidak ada yang dipertimbangkan. Lebih jauh soal ini mungkin dalam tulisan lain.
         Tentang mengapa ini terjadi, mungkin karena memang sedemikianlah mutu perbincangan kita, atau kemalasan orang mengikuti tatakrama, atau alasan lain. Saya tidak akan membahas itu, saya akan membahas bagaimana perbincangan perkara publik ditinjau dari medium itu sendiri, yaitu twitter, dan apa yang terjadi di sana. Secara konseptual kita bisa mengurai berbagai sarana perbincangan di internet berdasarkan langgam wacana atau cara orang berkata-kata dan berdasarkan ciri-ciri alat yang digunakan.

    A. Langgam Wacana: Tulisan atau Omongan. Sejak internet makin terlibat dalam kehidupan sehari-hari, makin banyak dipakai, dan makin banyak hal dilakukan di dalamnya, telah banyak orang berpikir dan merenungkan apakah yang sebenarnya berlangsung di sana. Salah satu pendekatan utama untuk mengurai ini adalah dengan mencoba menjawab apakah pendapat di Internet adalah tulisan ataukah omongan. Jika internet seperti omongan warung kopi, orang memang tidak dituntut memberi bukti. Sebaliknya tulisan untuk dibaca banyak orang, tetapi tanpa bukti justru menunjukkan mutu si penulis. Silakan simak juga buku Naomi S. Baron yang jernih membahas masalah ini.
         Mari kita bahas Twitter. Di dalamnya orang berbalas kata dengan cepat, hampir seperti orang mengobrol. Kata-kata yang digunakan juga pendek, banyak berlanggam cakapan sehari-hari, mengandung istilah prokem, dan seterusnya. Tapi, ternyata banyak orang menggunakan twitter untuk memberi kuliah panjang sampai puluhan, bahkan lebih dari seratus penggal pesan. Dan sangat banyak orang sadar bahwa cuitan tidak seperti kata-kata yang lenyap begitu terucap, menyisakan ingatan pengujar dan pendengar. Cuitan di twitter tinggal tetap sehingga bisa dirujuk sebagai bukti. Ini membuat orang juga berhati-hati menulis di twitter, bukan mengoceh belaka. Butir ini juga banyak bersangkutan dengan soal kedua berikut.

    B. Ciri-Ciri Alat: Platform Kurasi dan/atau Arsip. Alat seperti twitter ini memiliki sifat-sifat khusus yang membuat pendapat bahwa “toh ini cuma alat, berarti tergantung pemakainya” terdengar sebagai celoteh bocah. Alat tertentu hanya bisa dipakai untuk kepentingan tertentu dan dengan cara tertentu. Di dalamnya banyak kemungkina, tetapi jelas tidak semua kemungkinan. Twitter memungkinkan kita mengikuti informasi dari banyak pihak sekaligus dan serentak. Kita bisa menekuni satu bidang yang khusus, semisal sepatu kulit, dengan mengikuti perkembangan bahan, rancangan, teknologi dan seterusnya dari perancang busana, peneliti, bintang film, perusahaan, dan masih banyak lagi. Dan kita bisa memilih-milih mana yang kita pandang menunjukkan gejala paling penting, lantas kita teruskan kepada orang lain. Kita tidak membuat informasi itu sendiri, tetapi memilih berdasarkan kedalaman wawasan dan kekayaan selera kita. Dengan kata lain, kita menjadi kurator, suatu pekerjaan yang penting di dunia yang berlimpah informasi. Bahkan banyak profesi penghasil informasi, cenderung semakin menjadi kurator, semisal wartawan, narablog, konsultan ini itu, dan seterusnya.
         Selain untuk menyerap informasi dari banyak sumber, memilih, dan kemudian menyebarkannya kembali, twitter juga banyak dipakai sebagai wadah. Orang bercerita makanan, putus cinta, beli baju, dan kena macet di twitter. Di masa depan catatan-catatan yang dengan urut disimpan oleh twitter akan dirujuk dalam percakapan dengan kawan lain, dibuka-buka ketika sedang senggang, dan dipakai untuk bahan berkata-kata yang lain. Twitter adalah bentuk arsip pribadi yang tidak berupa percakapan batin, karena di dalamnya terjalin perbincangan dengan orang lain.

    C. Konteks yang Bercampur. Kembali ke soal perbincangan publik melalui internet yang menjadi ilustrasi tulisan ini. Bahwa orang sering melempar pendapat tanpa bukti, padahal menyangkut perkara bersama yang penting dan didengar orang banyak, adalah soal ketercampuran langgam wacana tulisan dengan omongan, serta ketercampuran berbagai jenis penggunaan pada satu alat. Keduanya cukup menjelaskan bagaimana kegaduhan di twitter tercipta. Namun ada alasan yang sama mendasarnya, suatu rancangan yang tertanam dalam arsitektur berbagai situs jejaring sosial, yang mengakibatkan ini. Situs jejaring sosial tidak menyediakan sarana untuk menciptakan konteks perbincangan. Padahal konteks sangatlah penting karena ia yang menentukan makna suatu perkataan dan perilaku berbahasa orang di dalamnya. Jenis hubungan sosial bisa menjadi konteks, tetapi konteks itu sendiri bukan jenis hubungan sosial. Konteks rapat memberi makna bahwa kata-kata yang disarikan adalah keputusan, konteks rayuan memberi makna bahwa kata-kata yang dilontarkan manis karena tersaput gula, bukan karena benar-benar manis, dan masih banyak lagi.
         Di sini terasa bagaimana materialitas ruang sangat penting untuk menjangkarkan konteks. Ruang kerja, ruang rapat, ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, kafe, tepi jalan, angkot, bioskop adalah konteks yang sangat jelas mengarahkan cara kita bicara dan apa makna perkataan kita. Di dunia maya ini hilang. Cara bicara dan jenis argumentasi untuk konteks obrolan bercampur dengan perbincangan perkara umum yang menuntut kejernihan nalar dan bukti yang kokoh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: